Tampilkan postingan dengan label Puisi Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Bebas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 November 2025

AKU SERIUS BERTANYA

Cahaya tumpah ruah
Menyapu bening kaca jendela
Kokok ayam suguhkan irama indah
Seperti menyambutku

Kaki-kaki cahaya mulai berlari
Tak ingin cepat-cepat dilindas roda masa
Sebab tau diri
Masa lebih punya kuasa

Segalanya terserap dalam-dalam
Mimpi malam yang ranum
Udara pagi yang harum
Bising pagi yang lazim
Antri memberi salam

Lalu semua biasa saja
Rasa cinta,
Sayang,
Hati yang lapang
Hambar

Tak ku sangkal
Aku yang makhluk individual
Mulai nikmati diam
Tidak dimesrai alam

Mungkin para makhluk sosial
Lebih punya banyak akal
Lebih romantis
Membuat energi tidak jenuh dalam statis

Apa kesendirian itu mesti dibunuh ?
Apa kebersamaan,
Riuh canda dan tawa
Haruslah empunya bahagia ?

Dan aku masih terus bertanya..... 

-RoniLette-
GoldenTulipSpringHillLampung161125

Senin, 13 Oktober 2025

Diskusi Hati dan Kepala

Hari ini...,
Adakah kau ingat kemarin
Ketika diantarnya aku kesaat ini
Ingatkah kau?

Ya aku lupa
Aku hanyalah kepala
Yang nikmati tiap masa
Kerap abaikan rasa

Kemarin...,
Adakah kau tahu saat ini
Ketika mengantarku kesini
Tahu kah kau?

Ya aku tahu
Aku hanyalah hati
Yang menapaki tiap hari
Dengan berhati-hati

Kemarin...,
Lantas kemana kembang-kembang itu
Yang pernah liar menghiburku
Tak lihatkah kau?

Ya aku lihat
Mereka pergi
Dengan tengkuk tertunduk
Layu tak berwarna

Lupakah kau?
Ketika pesta pora itu merayu mu
Kau tinggalkanku dibalik pintu
Dan kembang-kembang itu hilang cahaya nya

Aku ingat
Pernah melupakanmu
Tiap kali kegembiraan meliputi
Coba nikmati hidup dengan sungguh

Ya,
Kau harus ingat...

Ya aku sadar
Aku tahu sekarang
Kepala tanpa hati itu
Tak benar-benar mampu
Melihat kebenaran


_Qoe Punk *131025_

Sabtu, 08 Februari 2025

Selamat Pagi Corona


Kau datang lagi
Demikian rasaku
Meski belum benar-benar pernah pergi
Sirna dari persadaku

Aku masih begini
Merawat sakit yg dulu
Dengan doa pada malam-malam sunyi
Berpikir tetap tegar bagai batu

Kini kau coba kembali
Memeluk hari-hari
Telah lupakah engkau kini
Hadirkan luka tempo hari

Kala itu
Kau datang menumpas cinta
Koyakkan genggam jemari
Memberi jarak pada kepedulian

Tapi aku sekalian tak lagi bodoh
Cinta sudah mampu menumpas petaka
Genggam jemari kian erat membasmi lara
Kepedulian terlalu dalam untuk coba kau kuras

Aku ingatkan
Aku sekalian akan tetap berdiri
Menyambutmu dengan tawa
Kapan saja kau datang membawa duri

Selamat pagi corona



Roni Lette
Timor260920

Kamis, 07 September 2023

Ku Pikir...

Kemarin
Dengan kemarin-kemarinya yang lain
Aku pernah tak lagi aku
Yang kini bercerita
Larut
Dalam pusaran pagi, siang, dan malamNya
Pada pekat hitam
Yang terseduh jari-jari kekar logika
Lunglai diombang-ambing dalil
Penuh diksi-diksi nan sinis
Ketika Dia hanyalah ketiadaan
Lugas pada bibir-bibir hitam filsuf
Pada cangkir-cangkir kopi
Aku terbang menjunjung kundung api Membakar kewarasan
Runcing mata pena pun tumpul dan kering
Hari ini kubuka lagi
Jejak buncah mata pena
Pada lembar-lembar kumal
Setelah terpikir...............
Memilih tenggelam dalam materialisme Adalah sebuah idealisme
Timor160918

Jumat, 25 Desember 2020

Sang Kepala

Hei Kepala...
Kala kau mendiami puncak urat-urat leher kaum penyair
Yang dengan lantang mengagung-agungkan tentang kebesaranmu
Melambung tinggi mengaruk-garuk angkasa
Teramat dalam hingga menggerus dasar-dasar samudera

Tapi ruang dan waktu...
Masih mampu menghajarmu
Hari ini kau harus berpikir apa
Lantas saat itu kau harus menulis apa

Ketahuilah wahai kau sang kepala
Ketika kau bertahta dipuncak batang leherku
Perjuanganku untuk memuliakanmu takan pernah surut
Hingga kita lelap disinggasana dingin penuh debu kelak

Bahwa ruang dan waktu
Takan pernah mampu mengarahkanmu
Mereka takan berkuasa padamu
Meski tak lelah mencoba

Kupastikan...
Dipuncak batang leherku
Pikiranmu adalah bebas tak berbatas
Imajinasimu adalah luas tak bertepi

Bahkan hingga kau tidak perpikir
Untuk menuliskan apa-apa....
Itu bukan kalah yg buatmu tertunduk
Itu pilihan bebasmu

Pikirkan itu hei kepala.

_Roni Lette_
Timor261220

Selasa, 22 September 2020

Aku Adalah Masalah


Kepada fatamorgana
Aku pernah belajar bersalin rupa
Tiada jua sepasang mata
Tersesat lantas terpana

Kepada warna-warni pelangi
Aku pernah sombong merengkuh langit
Tak jua sepasang mata mengintip
Lantas tak berkedip

Kepada angin musim
T'lah ku curi spiritnya merambah bumi
Tak jua sekuntum kembang berdendang
Lantas terbang melayang

Kepada kemarau september
Aku lantang bertanya...
Kemana kau bawa pergi sejuk lembab lembayung...
Lantas banjir menyisir pelataran barat

Dan lantas otakku pecah
Berserakan
Memetik kuncup-kuncup masalah
Yang tampak subur ditanah ini...



-Roni Lette-
Timor230920

Senin, 16 Maret 2020

Dialog Cinta Dibawah Todongan Corona

-Roni Lette-

"Nona..,
Detik ini demi dunia dan akhirat aku bersumpah,
Kau akan selalu jadi perempuan yang utama untukku...".

"Benarkah bang apa yang kau katakan itu...,
Benarkah sebagai yang utama hanya aku satu-satunya yang kan selalu tinggal disampingmu hingga rambutku memutih kelak...".

"Jangan pernah kau tanyakan cinta kita setelah detik-detik ini nona...".

"Kenapa ?"

"Tak tahu kah kau,
Bahwa dijaman corona yang hiruk pikuk ini,
Detik-detik kemudian adalah waktu yang tak pasti kita temui nona ".



Timor,160320

Rabu, 08 Januari 2020

Sepasang Berandal

_Roni Lette_

Kita bengal
Tidak karena gagal
Tanpa sesal
Ini kemauan akal

Kita nakal
Sebagai bekal
Melibas aral
Tanpa banyak khayal

Cibir merah
Kutuk hitam
Kalian marah
Mereka geram

Tunjukan...
Kita takan bosan
Berpindah jalan
Ditengah hujan

Basah
Adalah berkah

Bait-bait tak pernah lelah
Mengikat diksi bagai penjara
Entah
Tentang apa

Kamu yang nakal
Aku yang bengal
Tak perlu kesal
Kita berandal



Timor090120







Jumat, 27 Desember 2019

SEMANGAT BARU


-Roni Lette-


Desember nan lembut
Bebatuan menghijau lumut
Menjunjung langit berkabut
Tanpa saling menyikut

Desemberku yang lembut
Sebentar lagi melarut
Oleh waktu yang ngebut
Semoga indahmu tak berubah kalut

Lembut warna pepohonan
Harum aroma udara
Sejuk air
Subur tanah

Apa-apa yang kupijak
Tanah, batu, ranting, dedaunan kering,
Manja menjemputku

Panggung-panggung yang kuarungi
Nyata dan maya
Riuh menyambutku hangat

Kupu-kupu berpesta
Tarikan indah kepak sahaja
Tetap kuingat dalam lena
Pada kepompong nan sederhana

Tak perlu lagi mimpi
Akan indah yang terimpi
Hidup telah utuh memeluk
Tinggal kunikmati

Hanya akan kubuang
Buruk yang membenalu
Pada taman hati
Hingga gelap tak lagi kerap menutup mata

Terimakasih desember
Pada apa-apa yang kau beri,


Timor281219

Sabtu, 21 Desember 2019

APAPUN...



_Roni Lette_


Kuceritakan sisa peluh kepada apa pun
Tentang waktu yang menghimpit
Tentang mentari membakar kulit
Tentang pengap oleh ruang yang pelit

Kupilih tuliskan perih pada apa pun
Setelah rintih-rintih terkaram letih
Mencoba sedikit munafik
Dengan diksi nan apik

Melangkah di atas batu" parak
Kala senja menorehkan merah
Riuh riak bercengkrama
Pada kerling keemasan laut pesisir barat

Coba gantungkan luka pada senja
Entar kan terhisap malam
Berharap terhapus penat
Lama menjepit dada

Hai pikiran yang melanglang masa
Kenapa sulit mengatur rasa
Bukankah kau sang pelukis realita
Kenapa perjalananku lara

Tanah diam
Aku hanyalah debu
Batu diam
Aku hanyalah kerikil
Kayu diam
Aku hanyalah dedaunan kering
Angin berpesta atasku
Sebab aku munafik


Timor221219


Jumat, 08 November 2019

BUNGA-BUNGA

Tak perlu kau berlari
Cukuplah gontai
Berlalu tanpa sapa
Biar ku nestapa

Sebab nestapa yang ini
Bukan apa-apa
Perkara yang ini
Takan ubahku jadi siapa-siapa

Dan bunga-bunga
Serta aroma yang mewakili suka
Juga bukan apa- apa
Tak buat ku jadi siapa- siapa

Tak perlu merasa berkuasa
Aku tiada mempan dilukai rasa
Berlalu pergilah sesukamu
Aku terlalu sibuk memetik kata untuk ku ramu

Meski tak pernah bosan meninggalkanku
Aku sudah tak pernah rindu hadirmu
Lalu kau hadir dengan ceriamu
Aku tak lagi pernah sepi tanpamu

Sebab kata-kata
Setia menari dalam kepala
Lebih mesra diajak berpesta
Cumbui hati yang rindu berdansa




Roni Lette
Timor,08112019


Rabu, 03 Juli 2019

Sapa Sang Kelana

Apa kabar semua
Masihkah seru kita bersua
Telah lama memilih berdua
Hingga waktu melukisku menua

Kembali berisikah canda
Seorang lelaki rentah
Dengan sebatang kail tua
Pada genggam yang gemetar

Tetap lincahkah si mujair betina
Kerap mencuri umpan lalu bersembunyi entah kemana
Telah mengisi gusar sang kelana
Pada punggung kuda tak berpelana

Begitulah apa adamu
Bisik sanubari menghibur
Satu-satunya pelipur
Sebelum senyap dalam liang kubur

Timor03072019

Selasa, 12 Februari 2019

Pencinta Wanita

Hai nona-nona...
Ahh tidak, nona...
Tak perlu kusapa jamak
Meski aku jenis yang tak pernah rela
Mesti memilih satu di antara banyak
Kemarin kamu,
Sejak senyum samar dibibirmu
Melukis bunga dihatiku
Lantas kuhabiskan waktu
Mengukirmu ditiap ujung pikirku
Hari ini kamu,
Dengan kepang rambutmu
Mengais desir
bidang dadaku
Lantas kuhujani langit kamarku
Dengan mimpi-mimpi yang berkeringat
Tak ku sangsikan
Besok kamu,
Lalu kamu,
Dan juga kamu...
Entah dengan cara apapun
Kan menghabiskan penggal-penggal umurku
Bersamamu nona....

#Roni Lette
_Adonara090219_

Jumat, 13 Juli 2018

PEMBELAAN ORANG-ORANG KALAH

Ribuan puisi lahir


Berkelana menyapa kembang


Tergubah hati-hati


Dihembus dari hati


Satu dua bait


Tak juga berarti


Gugur bersama dedaunan


Letih menghias hari


Tiga empat hembus


Belum juga mewangi


Hilang bersama kumbang


Rakus menghirup madu


Gulana merayapi asa


Bait-bait menjelma sampah


Putik-putik hati


Luruh memeluk tanah


Sebelum kau terkubur


Dan asa luntur


Kugubah bait sederhana


Tanpa diksi manis


Biar meranggas merayu kembang


Hanya sebuah puisi kecil


Dengan kuncup segar


Merayapi langit


Menyapa khalik


Menjemput pembelaan


Pada orang-orang kalah

Timor140718

Kamis, 31 Mei 2018

Bilik Penjara

Ku kenal puisi
Semenjak palu menghantam asa
Persada negeri seketika sempit
Terbungkus dingin tembok penjara

Rupanya ribuan puisi berbaris malu
Memilih sembunyi di dinding gelap nan lembab
Oleh rona-rona nestapa
Juga aura-aura marah

Telah ku eja satu demi satu
Aku selalu tenggelam
Ini begitu nyata
Tiap-tiap bait seolah adalah aku

Seperti telah beranak cucu
Sejak dinding tua ini berdiri
Dengan diksi dan rima berbeda
Mewakili suka duka yang berulang sama

Mungkin ini giliranku
Yang tak jua merangkai diksi
Biar tetap mentradisi
Di gilir ketuk palu

Tapi aku bukan penyair
Kenapa mesti ku pikir
Ku pandangi lekat sudut lembab
Samar bait tertutup lelumutan

"Bermain-mainlah  denganku...
Permainkanlah aku...
Akan kau temui sebuah jendela...
Bahwa bilik kecil ini bukan sebuah penjara...".

Hahaha...
Bagaimana mungkin bermain denganmu
Apalagi mempermainkanmu
Lantas sebuah jendela terbuka
Dan bilik sempit ini bukan lagi sebuah penjara

Gila...
Lalu dewi malam seperti menjauhiku
Dia enggan mengajakku lelap
Kulalui waktu dengan berpikir

Tapi bait-bait itu...
Mungkin mereka itu sedang menertawaiku
Seketika sumpek menyerangku
Aku merasa di tantang

Kudekati sisi dinding yang bersih
Sedikit sombong ku goreskan marah

"Hei penjara..
Aku takan pernah lara...
Bahkan hanya pada sebidang dada dan kepala...
Hati dan pikirku bebas melanglang buana...".

Detak waktu terus melaju
Tanpa membuatku terkejut
Tak ingin langkah-langkah itu datang
Menyeretku keluar

Karena bebas itu aku
Merenangi samudera diksi


Timor010618

Minggu, 27 Mei 2018

Ku Temui Kembali

Terbangun lagi
Masih juga gelap
Belum berkoar paruh-paruh pipit
Dunia telah terjaga

Irama langkah kaki
Dengan peci dan mukena
Diam khusyuk
Menenteng sajadah

Wajah-wajah segar
Menjawab senandung adzan
Nampak lincah
Bak derap tarian surga

Kini bulan ramadhan
Bulan penuh berkah
Bagi mereka yang berjibaku
Melawan hawa nafsu

Meski tanpa sajadah
Tiada berpeci
Senandung adzan ajak ku kembali
Nikmati tradisi aroma ramadhan kampungku

Timor270518

Senin, 30 April 2018

Embun Sirna Satu-Satu

Rembulan pulang
Mentari telanjangi sudut-sudut remang
Butir embun sirna satu-satu
Tinggalkan daun-daun waru

Bale bambu lembab
Tempat cinta kerap terjerembab
Berlumuran keringat
Telah kering memucat

Kepak kupu-kupu
Kebisuan jengkrik
Entah tak tahu
Atau lupa tentang malam yang berisik

Disanalah
Cinta menjadi pesakitan
Dijejali salah
Suritauladan lupa peranan

Dan bale bambu
Tetap membisu
Nikmati tembang satu malam
Hingga rembulan terbenam

Generasi besutan remang malam
Riuhkan malam
Jerat demi jerat
Remang berkeringat

Esok embun sirna satu-satu...

Timor010518

Minggu, 29 April 2018

KEKASIH...

Kekasih...
Kata yang terukir di bilik-bilik dada
Tempat bersemayam rona senyum
Meski telah lupa arti senyum itu

Terimakasih...
Pernah setia temani
Saat imaji bertamasya
Pada tiang-tiang karat dermaga tua

Sampan itu...
Yang kini teronggok lapuk di tepian karang
Dulu cinta pernah memerah bara di alun gelombang
Dan gemercik ombak setia menjaga kesejukannya

Kekasih...
Ingatkah ketika jemariku lembut membelai lengkung dagu itu
Kau tersipu dengan cara dewasa
Hormatku tumbuh seketika

Kekasih...
Kini imajiku telah hilang arah
Lengkung dagu itu sirna
sisakan lapuk dan karat dalam kenangan

Ku coba mengais jelaga
Pada bara rasa yang pernah ku rasa
Tapi kau terlalu tegas
Menghilang tanpa bekas

Kekasih...

Timor260418

Rabu, 25 April 2018

Kaum Berani Mati

Keberanian...
Adalah perempuan
Makhluk yang ku pikir lemah
Awalnya

Disingkirkanya sekian pilihan
Memilih berani mati
Melahirkan aku, kamu, dia, juga mereka
Demi terselenggaranya kehidupan

Ku jalani waktu
Seiring ibu kian terbungkuk
Lalu pasrah
Mengakhiri kisahnya

Kepasrahan...
Adalah aku laki-laki
Bangga pada keyakinan
Kematian adalah awal kehidupan

Keberanian...
Apakah ada padaku
Bukankah ibu sudah tunjukan
Tidak, aku penakut

Tiada kematian dengan keberanian
Lihatlah ibu
Telah mati dengan kepasrahan
Tapi pernah berani mati dalam hidupnya

Aku pernah bilang
Berani mati demi keyakinan
Demi sahabat sejati
Demi kebenaran

Tapi dia laki-laki
Butuh alasan kuat
Mesti ada yang salah
Mesti ada korban

Lalu apa sudah kuyakini
Bahwa mati bukanlah akhir
Melainkan awal kehidupan bahagia
Yang ku agung-agungkan penuh paksaan

Sesungguhnya aku penipu
Meletakkan jendela hati
Pada koar besar mulutku
Harus lebih hebat kaumku

Lihatlah barisan perempuan
Menjemput pasrah akhir kisahnya
Setelah sekian kali
Berani membunuh kisahnya

Lalu barisan laki-laki
Menjemput pasrah akhir kisahnya
Setelah sekian kali
Hanya pasrah mengadu kisahnya

Telah ku sadari
Sesungguhnya
Yang lemah lah
Sang pemberani

Timor250418

Selasa, 24 April 2018

Selesai !

Sudahlah...
Aku hanyalah kau
Yang kamu sapa
Bersama piring gelas melayang

Telah pada kiraku
Sejak aku masihlah kamu
Yang kamu sapa manja
Dari binar mata hijaumu

Tiada kehilangan yang kan mengajakku bergetar
Kamu hanyalah makhluk mahal
Setara lembar-lembar bernilai
Di dalam dompetku

Timor240418