Sabtu, 15 November 2025
AKU SERIUS BERTANYA
Senin, 13 Oktober 2025
Diskusi Hati dan Kepala
Sabtu, 08 Februari 2025
Selamat Pagi Corona
Kamis, 07 September 2023
Ku Pikir...
Dengan kemarin-kemarinya yang lain
Aku pernah tak lagi aku
Yang kini bercerita
Dalam pusaran pagi, siang, dan malamNya
Pada pekat hitam
Yang terseduh jari-jari kekar logika
Penuh diksi-diksi nan sinis
Ketika Dia hanyalah ketiadaan
Lugas pada bibir-bibir hitam filsuf
Aku terbang menjunjung kundung api Membakar kewarasan
Runcing mata pena pun tumpul dan kering
Jejak buncah mata pena
Pada lembar-lembar kumal
Setelah terpikir...............
Jumat, 25 Desember 2020
Sang Kepala
Kala kau mendiami puncak urat-urat leher kaum penyair
Yang dengan lantang mengagung-agungkan tentang kebesaranmu
Melambung tinggi mengaruk-garuk angkasa
Teramat dalam hingga menggerus dasar-dasar samudera
Tapi ruang dan waktu...
Masih mampu menghajarmu
Hari ini kau harus berpikir apa
Lantas saat itu kau harus menulis apa
Ketahuilah wahai kau sang kepala
Ketika kau bertahta dipuncak batang leherku
Perjuanganku untuk memuliakanmu takan pernah surut
Hingga kita lelap disinggasana dingin penuh debu kelak
Bahwa ruang dan waktu
Takan pernah mampu mengarahkanmu
Mereka takan berkuasa padamu
Meski tak lelah mencoba
Kupastikan...
Dipuncak batang leherku
Pikiranmu adalah bebas tak berbatas
Imajinasimu adalah luas tak bertepi
Selasa, 22 September 2020
Aku Adalah Masalah
Kepada fatamorgana
Aku pernah belajar bersalin rupa
Tiada jua sepasang mata
Tersesat lantas terpana
Kepada warna-warni pelangi
Aku pernah sombong merengkuh langit
Tak jua sepasang mata mengintip
Lantas tak berkedip
Kepada angin musim
T'lah ku curi spiritnya merambah bumi
Tak jua sekuntum kembang berdendang
Lantas terbang melayang
Kepada kemarau september
Aku lantang bertanya...
Kemana kau bawa pergi sejuk lembab lembayung...
Lantas banjir menyisir pelataran barat
Dan lantas otakku pecah
Berserakan
Memetik kuncup-kuncup masalah
Yang tampak subur ditanah ini...
-Roni Lette-
Timor230920
Senin, 16 Maret 2020
Dialog Cinta Dibawah Todongan Corona
"Nona..,
Detik ini demi dunia dan akhirat aku bersumpah,
Kau akan selalu jadi perempuan yang utama untukku...".
"Benarkah bang apa yang kau katakan itu...,
Benarkah sebagai yang utama hanya aku satu-satunya yang kan selalu tinggal disampingmu hingga rambutku memutih kelak...".
"Jangan pernah kau tanyakan cinta kita setelah detik-detik ini nona...".
"Kenapa ?"
"Tak tahu kah kau,
Bahwa dijaman corona yang hiruk pikuk ini,
Detik-detik kemudian adalah waktu yang tak pasti kita temui nona ".
Timor,160320
Rabu, 08 Januari 2020
Sepasang Berandal
Tidak karena gagal
Tanpa sesal
Ini kemauan akal
Kita nakal
Sebagai bekal
Melibas aral
Tanpa banyak khayal
Cibir merah
Kutuk hitam
Kalian marah
Mereka geram
Tunjukan...
Kita takan bosan
Berpindah jalan
Ditengah hujan
Basah
Adalah berkah
Bait-bait tak pernah lelah
Mengikat diksi bagai penjara
Entah
Tentang apa
Kamu yang nakal
Aku yang bengal
Tak perlu kesal
Kita berandal
Timor090120
Jumat, 27 Desember 2019
SEMANGAT BARU
Desember nan lembut
Bebatuan menghijau lumut
Menjunjung langit berkabut
Tanpa saling menyikut
Desemberku yang lembut
Sebentar lagi melarut
Oleh waktu yang ngebut
Semoga indahmu tak berubah kalut
Lembut warna pepohonan
Harum aroma udara
Sejuk air
Subur tanah
Apa-apa yang kupijak
Tanah, batu, ranting, dedaunan kering,
Manja menjemputku
Panggung-panggung yang kuarungi
Nyata dan maya
Riuh menyambutku hangat
Kupu-kupu berpesta
Tarikan indah kepak sahaja
Tetap kuingat dalam lena
Pada kepompong nan sederhana
Tak perlu lagi mimpi
Akan indah yang terimpi
Hidup telah utuh memeluk
Tinggal kunikmati
Hanya akan kubuang
Buruk yang membenalu
Pada taman hati
Hingga gelap tak lagi kerap menutup mata
Terimakasih desember
Pada apa-apa yang kau beri,
Timor281219
Sabtu, 21 Desember 2019
APAPUN...
_Roni Lette_
Kuceritakan sisa peluh kepada apa pun
Tentang waktu yang menghimpit
Tentang mentari membakar kulit
Tentang pengap oleh ruang yang pelit
Kupilih tuliskan perih pada apa pun
Setelah rintih-rintih terkaram letih
Mencoba sedikit munafik
Dengan diksi nan apik
Melangkah di atas batu" parak
Kala senja menorehkan merah
Riuh riak bercengkrama
Pada kerling keemasan laut pesisir barat
Coba gantungkan luka pada senja
Entar kan terhisap malam
Berharap terhapus penat
Lama menjepit dada
Hai pikiran yang melanglang masa
Kenapa sulit mengatur rasa
Bukankah kau sang pelukis realita
Kenapa perjalananku lara
Tanah diam
Aku hanyalah debu
Batu diam
Aku hanyalah kerikil
Kayu diam
Aku hanyalah dedaunan kering
Angin berpesta atasku
Sebab aku munafik
Timor221219
Jumat, 08 November 2019
BUNGA-BUNGA
Cukuplah gontai
Berlalu tanpa sapa
Biar ku nestapa
Sebab nestapa yang ini
Bukan apa-apa
Perkara yang ini
Takan ubahku jadi siapa-siapa
Dan bunga-bunga
Serta aroma yang mewakili suka
Juga bukan apa- apa
Tak buat ku jadi siapa- siapa
Tak perlu merasa berkuasa
Aku tiada mempan dilukai rasa
Berlalu pergilah sesukamu
Aku terlalu sibuk memetik kata untuk ku ramu
Meski tak pernah bosan meninggalkanku
Aku sudah tak pernah rindu hadirmu
Lalu kau hadir dengan ceriamu
Aku tak lagi pernah sepi tanpamu
Sebab kata-kata
Setia menari dalam kepala
Lebih mesra diajak berpesta
Cumbui hati yang rindu berdansa
Roni Lette
Timor,08112019
Rabu, 03 Juli 2019
Sapa Sang Kelana
Apa kabar semua
Masihkah seru kita bersua
Telah lama memilih berdua
Hingga waktu melukisku menua
Kembali berisikah canda
Seorang lelaki rentah
Dengan sebatang kail tua
Pada genggam yang gemetar
Tetap lincahkah si mujair betina
Kerap mencuri umpan lalu bersembunyi entah kemana
Telah mengisi gusar sang kelana
Pada punggung kuda tak berpelana
Begitulah apa adamu
Bisik sanubari menghibur
Satu-satunya pelipur
Sebelum senyap dalam liang kubur
Timor03072019
Selasa, 12 Februari 2019
Pencinta Wanita
Hai nona-nona...
Ahh tidak, nona...
Tak perlu kusapa jamak
Meski aku jenis yang tak pernah rela
Mesti memilih satu di antara banyak
Kemarin kamu,
Sejak senyum samar dibibirmu
Melukis bunga dihatiku
Lantas kuhabiskan waktu
Mengukirmu ditiap ujung pikirku
Hari ini kamu,
Dengan kepang rambutmu
Mengais desir
bidang dadaku
Lantas kuhujani langit kamarku
Dengan mimpi-mimpi yang berkeringat
Tak ku sangsikan
Besok kamu,
Lalu kamu,
Dan juga kamu...
Entah dengan cara apapun
Kan menghabiskan penggal-penggal umurku
Bersamamu nona....

#Roni Lette
_Adonara090219_
Jumat, 13 Juli 2018
PEMBELAAN ORANG-ORANG KALAH
Ribuan puisi lahir
Berkelana menyapa kembang
Tergubah hati-hati
Dihembus dari hati
Satu dua bait
Tak juga berarti
Gugur bersama dedaunan
Letih menghias hari
Tiga empat hembus
Belum juga mewangi
Hilang bersama kumbang
Rakus menghirup madu
Gulana merayapi asa
Bait-bait menjelma sampah
Putik-putik hati
Luruh memeluk tanah
Sebelum kau terkubur
Dan asa luntur
Kugubah bait sederhana
Tanpa diksi manis
Biar meranggas merayu kembang
Hanya sebuah puisi kecil
Dengan kuncup segar
Merayapi langit
Menyapa khalik
Menjemput pembelaan
Pada orang-orang kalah
Timor140718
Kamis, 31 Mei 2018
Bilik Penjara
Semenjak palu menghantam asa
Persada negeri seketika sempit
Terbungkus dingin tembok penjara
Rupanya ribuan puisi berbaris malu
Memilih sembunyi di dinding gelap nan lembab
Oleh rona-rona nestapa
Juga aura-aura marah
Telah ku eja satu demi satu
Aku selalu tenggelam
Ini begitu nyata
Tiap-tiap bait seolah adalah aku
Seperti telah beranak cucu
Sejak dinding tua ini berdiri
Dengan diksi dan rima berbeda
Mewakili suka duka yang berulang sama
Mungkin ini giliranku
Yang tak jua merangkai diksi
Biar tetap mentradisi
Di gilir ketuk palu
Tapi aku bukan penyair
Kenapa mesti ku pikir
Ku pandangi lekat sudut lembab
Samar bait tertutup lelumutan
"Bermain-mainlah denganku...
Permainkanlah aku...
Akan kau temui sebuah jendela...
Bahwa bilik kecil ini bukan sebuah penjara...".
Hahaha...
Bagaimana mungkin bermain denganmu
Apalagi mempermainkanmu
Lantas sebuah jendela terbuka
Dan bilik sempit ini bukan lagi sebuah penjara
Gila...
Lalu dewi malam seperti menjauhiku
Dia enggan mengajakku lelap
Kulalui waktu dengan berpikir
Tapi bait-bait itu...
Mungkin mereka itu sedang menertawaiku
Seketika sumpek menyerangku
Aku merasa di tantang
Kudekati sisi dinding yang bersih
Sedikit sombong ku goreskan marah
"Hei penjara..
Aku takan pernah lara...
Bahkan hanya pada sebidang dada dan kepala...
Hati dan pikirku bebas melanglang buana...".
Detak waktu terus melaju
Tanpa membuatku terkejut
Tak ingin langkah-langkah itu datang
Menyeretku keluar
Karena bebas itu aku
Merenangi samudera diksi
Timor010618
Minggu, 27 Mei 2018
Ku Temui Kembali
Terbangun lagi
Masih juga gelap
Belum berkoar paruh-paruh pipit
Dunia telah terjaga
Irama langkah kaki
Dengan peci dan mukena
Diam khusyuk
Menenteng sajadah
Wajah-wajah segar
Menjawab senandung adzan
Nampak lincah
Bak derap tarian surga
Kini bulan ramadhan
Bulan penuh berkah
Bagi mereka yang berjibaku
Melawan hawa nafsu
Meski tanpa sajadah
Tiada berpeci
Senandung adzan ajak ku kembali
Nikmati tradisi aroma ramadhan kampungku
Timor270518
Senin, 30 April 2018
Embun Sirna Satu-Satu
Rembulan pulang
Mentari telanjangi sudut-sudut remang
Butir embun sirna satu-satu
Tinggalkan daun-daun waru
Bale bambu lembab
Tempat cinta kerap terjerembab
Berlumuran keringat
Telah kering memucat
Kepak kupu-kupu
Kebisuan jengkrik
Entah tak tahu
Atau lupa tentang malam yang berisik
Disanalah
Cinta menjadi pesakitan
Dijejali salah
Suritauladan lupa peranan
Dan bale bambu
Tetap membisu
Nikmati tembang satu malam
Hingga rembulan terbenam
Generasi besutan remang malam
Riuhkan malam
Jerat demi jerat
Remang berkeringat
Esok embun sirna satu-satu...
Timor010518
Minggu, 29 April 2018
KEKASIH...
Kekasih...
Kata yang terukir di bilik-bilik dada
Tempat bersemayam rona senyum
Meski telah lupa arti senyum itu
Terimakasih...
Pernah setia temani
Saat imaji bertamasya
Pada tiang-tiang karat dermaga tua
Sampan itu...
Yang kini teronggok lapuk di tepian karang
Dulu cinta pernah memerah bara di alun gelombang
Dan gemercik ombak setia menjaga kesejukannya
Kekasih...
Ingatkah ketika jemariku lembut membelai lengkung dagu itu
Kau tersipu dengan cara dewasa
Hormatku tumbuh seketika
Kekasih...
Kini imajiku telah hilang arah
Lengkung dagu itu sirna
sisakan lapuk dan karat dalam kenangan
Ku coba mengais jelaga
Pada bara rasa yang pernah ku rasa
Tapi kau terlalu tegas
Menghilang tanpa bekas
Kekasih...
Timor260418
Rabu, 25 April 2018
Kaum Berani Mati
Keberanian...
Adalah perempuan
Makhluk yang ku pikir lemah
Awalnya
Disingkirkanya sekian pilihan
Memilih berani mati
Melahirkan aku, kamu, dia, juga mereka
Demi terselenggaranya kehidupan
Ku jalani waktu
Seiring ibu kian terbungkuk
Lalu pasrah
Mengakhiri kisahnya
Kepasrahan...
Adalah aku laki-laki
Bangga pada keyakinan
Kematian adalah awal kehidupan
Keberanian...
Apakah ada padaku
Bukankah ibu sudah tunjukan
Tidak, aku penakut
Tiada kematian dengan keberanian
Lihatlah ibu
Telah mati dengan kepasrahan
Tapi pernah berani mati dalam hidupnya
Aku pernah bilang
Berani mati demi keyakinan
Demi sahabat sejati
Demi kebenaran
Tapi dia laki-laki
Butuh alasan kuat
Mesti ada yang salah
Mesti ada korban
Lalu apa sudah kuyakini
Bahwa mati bukanlah akhir
Melainkan awal kehidupan bahagia
Yang ku agung-agungkan penuh paksaan
Sesungguhnya aku penipu
Meletakkan jendela hati
Pada koar besar mulutku
Harus lebih hebat kaumku
Lihatlah barisan perempuan
Menjemput pasrah akhir kisahnya
Setelah sekian kali
Berani membunuh kisahnya
Lalu barisan laki-laki
Menjemput pasrah akhir kisahnya
Setelah sekian kali
Hanya pasrah mengadu kisahnya
Telah ku sadari
Sesungguhnya
Yang lemah lah
Sang pemberani
Timor250418
Selasa, 24 April 2018
Selesai !
Sudahlah...
Aku hanyalah kau
Yang kamu sapa
Bersama piring gelas melayang
Telah pada kiraku
Sejak aku masihlah kamu
Yang kamu sapa manja
Dari binar mata hijaumu
Tiada kehilangan yang kan mengajakku bergetar
Kamu hanyalah makhluk mahal
Setara lembar-lembar bernilai
Di dalam dompetku
Timor240418





